Apple Siapkan 70-80 Juta iPhone Baru

KOMPAS.com - Apple dilaporkan sedang memproduksi ponsel pintar iPhone model baru, yang diyakini bernama iPhone 6, untuk diluncurkan pada akhir tahun 2014. Bahkan, Apple pun dilaporkan telah menyiapkan sekitar 70 sampai 80 juta unit iPhone baru.

Menurut laporan The Wall Street Journal, jumlah tersebut akan dibagi dalam dua model iPhone terbaru, yaitu model dengan ukuran layar 4,7 inci dan 5,5 inci.

Apple tak ingin penjualan iPhone terhambat akibat kekurangan stok seperti tahun lalu, di mana perusahaan hanya memesan iPhone 5C dan iPhone 5S sebanyak 50 sampai 60 juta unit.

iPhone baru akan memiliki desain yang berbeda dari iPhone 5s. Bodinya lebih ramping dengan sudut membulat. Layarnya bakal terbuat dari material safir yang dilapisi oleh teknologi anti-gores Corning Gorilla Glass.

Apple membukukan pendapatan sebesar 37,4 miliar dollar AS pada kuartal kedua 2014 yang berakhir pada Juni 2014. iPhone masih menjadi produk terlaris dengan penjualan mencapai 35,2 juta unit.

Sementara untuk komputer tablet iPad, Apple hanya menjual 13,3 juta unit pada kuartal tiga 2014 atau turun dibandingkan kuartal yang sama tahun 2013, yaitu 14,6 juta unit.

Related Posts:

Google Glass Bisa Dikendalikan dengan Pikiran

KOMPAS.com — Google Glass ternyata bukan hanya bisa dikendalikan dengan kalimat “Ok Glass” saja, melainkan juga dengan kekuatan pikiran.

Hal tersebut dibuktikan oleh startup asal Inggris, This Place, yang merilis software gratis bernama MindRDR untuk kacamata pintar tersebut. Menggunakan perangkat lunak ini, pengguna Glass bisa menjepret foto tanpa menggerakkan satu otot pun. 

Sebuah garis hotizontal akan ditampilkan di layar Glass. Ketika orang yang mengenakan Glass berkonsentrasi, garis akan bergerak naik ke arah atas layar. Perangkat akan menjepret gambar, begitu garis mencapai bagian paling atas dari layar.

Foto bisa langsung diunggah ke media sosial yang ditentukan sebelumnya dengan mengulang proses konsentrasi pada garis putih tersebut. 

Kendali dengan pikiran ini praktis untuk dipakai dalam situasi tertentu ketika pengguna Glass tidak bisa memakai tangan, misalnya oleh dokter saat sedang melakukan operasi. Tak menutup kemungkinan pula, pengendalian cara ini digunakan untuk sekadar iseng.

“Kami ingin mengeluarkan potensi maksimal Glass dengan memungkinkan pengguna mengontrol perangkat itu dengan pikiran mereka,” kata Chief Executive This Place Dusan Hamlin yang dikutip oleh BBC.

Saat ini kemampuan MindRDR baru sebatas mengambil foto dan mengunggahnya ke media sosial, tetapi nantinya diharapkan bisa meluas mencakup aspek lain. 

“Dengan demikian, pengendalian cara ini bisa memberikan kesempatan kepada, misalnya, penderita multiple sclerosis atau quadriplegia untuk berinteraksi dengan dunia sekitar memakai teknologi wearable,” kata Chloe Kirton, Direktur Kreatif This Place.

Namun, untuk bisa beroperasi seperti ini, Glass mesti turut dipasangkan dengan sebuahheadset dengan electroncephalography (EEG). Alat itu diperlukan untuk membaca gelombang otak ketika area tertentu di organ tersebut menunjukkan aktivitas.

Dengan demikian, pengguna mesti mengenakan dua headset di kepala. Harga headsetEEG relatif murah dibandingkan Google Glass, yaitu sebesar 100 poundsterling, sementara Glass dibanderol 1.000 poundsterling atau lebih dari Rp 20 juta di Inggris.

Google sendiri menyatakan tidak mendukung penggunaan MindRDR di perangkat kacamata pintarnya. “Google Glass tak bisa membaca pikiran Anda,” ujar seorang juru bicara. “Kami belum meninjau ataupun menyetujui (aplikasi ini), jadi ia tak akan tersedia di Glass App Store.”

Related Posts:

Mau Pakai Android Wear? Cek Dulu Ponselnya

KOMPAS.com - Jam tangan pintar macam LG G Watch, Motorola Moto 360, dan Samsung Gear Live adalah perangkat yang menarik.

Sayang, agaknya hanya segelintir pengguna smartphone yang bisa memanfaatkan secara penuh kemampuan wearable device berbasis Android Wear tersebut.

Ini karena perangkat Android Wear hanya bisa tersambung dan bertukar data dengan smartphone Android yang dibekali sistem operasi Android 4.3 Jelly Bean atau Android 4.4 Kitkat terbaru.

Kedua sistem operasi itu, menurut data dari Google yang dikutip oleh TechCrunch, baru dipakai oleh 23,9 persen perangkat Android.

Itupun dicapai hampir setahun setelah sistem operasi bersangkutan mulai beredar.
Google
Data versi sistem operasi Andoid yang beredar dari Google Dashboard per 4 Juni 2014
Artinya, sebagian besar pemilik smartphone Android -- dengan sistem operasi versi lawas -- tak bisa menyambungkan ponselnya dengan wearable device Android Wear.

Hal ini tentu mengurangi ukuran pasar potensial dari G Watch dan kawan-kawan, sementara pengguna yang berminat mesti memastikan bahwa Android Wear kompatibel dengan ponsel yang dimiliki.

Untuk mereka yang kurang yakin soal perangkatnya mendukung Android Wear atau tidak, Google menyediakan sebuah situs khusus untuk membantu menemukan jawabannya.

Related Posts: